Aku dan adik ku hampir setiap hari tidak pernah absen bertengkar. Dalam hal apapun itu. Sekalipun tidak penting, bisa menjadi bahan untuk kami bertengkar. Pagi itu, kami bertengkar hanya karna remot tv. Seingatku, itu sekitar empat atau lima tahun yang lalu saat aku masih duduk dibangku SMP. Aku ingin menonton film kesukaanku, adik ku juga ingin menonton film favoritnya, diantara kami tidak ada yang ingin mengalah. Sampai akhirnya remot tv pecah karna terlempar. Mendengar kegaduhan, bapak datang dan memandangi kami satu persatu. Aku dan adik ku sangat takut, nampak dari wajah kami yang memucat. Bapak lalu duduk dan menyuruh kami meminta maaf dan membawa kami ke dapur untuk makan malam. Selesai makan, bapak mulai berbicara, "nak, sewaktu bapak kecil dulu, tidak pernah bapak dan saudara bapak bertengkar hanya karna hal sepele seperti itu." ketika bapak bicara, suasana saat itu hening sekali, tidak ada yang mengeluarkan kalimat atau kata sedikitpun.
Hingga saat ini pun, saat aku sudah menjadi mahasiswa, aku selalu mengingat kisah yang bapak ceritakan sewaktu ia kecil dulu. Yap, bapak selalu menceritakan kisah masa kecilnya ketika aku atau adik-adik ku bertengkar satu sama lain. Kisah kecilnya, selalu menarik dan membuat haru.
Pria kelahiran 2 Juli 1979 dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi, dan badannya yang tidak terlalu besar,kulit kecoklatan, juga rambut tebal yang masih hitam itu duduk di sebelahku. Sembari bercerita kisahnya dulu. Tepatnya ketika bapak masih duduk di bangku sekolah dasar, sebelum berangkat sekolah, diwaktu subuh bapak sudah bangun dan ikut orang tuanya untuk menoreh getah di hutan. Dengan hanya mengandalkan penerangan lampu lilin yang ditancapkan di batok kelapa. Ketika pulang sekolah, bapak langsung pergi bertani. "kenapa saat kecil bapak sudah bekerja sekeras itu?" timbul rasa penasaran di benak ku. Rupanya, membantu orang tuanya mencari uang adalah alasan utama bapak bekerja sedari kecil. Terlebih bapak adalah anak pertama dari lima bersaudara. Bapak bilang, dulu ketika ia makan dengan lauk satu buah telur dibagi dengan ke empat adiknya. Tidak pernah ia bertengkar ataupun mengeluh ketika diberi bagian yang lebih kecil. Ia bahkan kadang memberi lauknya untuk adik-adiknya.
Meski bapak lebih sering membantu orang tuanya, bapak tidak kehilangan masa kecilnya untuk bermain dengan teman-teman nya. Ketika pulang dari hutan, bapak langsung meloncat dari gertak ke sungai dengan teman-temannya. Mereka juga bermain lempar-lemparan lumpur. Bapak bilang ia sangat senang berenang, sampai-sampai ia terkadang demam karna terlalu lama bermain di air.
Setelah lulus SD, bapak memilih untuk tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMP. Bapak lebih memilih membantu orang tuanya dengan merantau ke kota bersama teman nya untuk mencari kerja. Pekerjaan yang didapatnya kala itu adalah meubel. Setiap bulannya, atau ketika bapak mendapat rezeki, ia selalu mengirim beras ke kampung untuk orang tua dan adiknya. Ketika itu, ibunya mengandung anak keenam yang sebentar lagi akan lahir.
Pulang bapak ke kampung ketika mendengar ibunya meninggal setelah melahirkan adiknya. Bapak sangat sedih kala itu. Bapak yang berbulan-bulan tidak bertemu ibunya, kala itu bertemu dalam keadaan ibunya yang sudah meninggal. Beberapa hari disana, bapak kembali ke kota.
Tiga tahun setelah ibunya meninggal, terdengar kabar bahwa ayahnya juga berpulang menyusul ibunya. Ayahnya mempunyai riwayat penyakit paru-paru. Makin terpukullah bapak. Bapak memikirkan siapa yang akan merawat dan menjaga adiknya yang paling kecil. Alhamdulillah, ada tetangga bapak yang bersedia merawat adik-adiknya.
Tak heran jika bapak merupakan sosok pekerja keras dan sayang kepada keluarga. Karna diusia bapak yang terbilang masih remaja, bapak sudah menjadi anak yatim piatu dengan lima orang adik yang masih kecil-kecil.
Di tahun 2000, bapak menikah dengan gadis yang merupakan tetangganya dulu. Teman kecil dan teman mainnya dulu. Bisa dibilang diusia 21 tahun masih sangat muda untuk menikah, namun di jaman dulu, rata-rata masyarakatnya memang menikah diusia muda. Saat itu, gadis yang dinikahi bapak berusia 18 tahun. Masih sangat muda.
Ketika dikaruniai anak pertama laki-laki, tidak sampai beberapa bulan anak tersebut dipanggil oleh Allah karena sakit. Ya! Dia adalah abangku. Kesabaran bapak kali ini diuji kembali oleh Allah. Bapak tak mengeluh ataupun menyalahi keadaan. Bapak tau, jika melakukan itu tidak akan bisa mengembalikan apa yang hilang.
20 September 2002, lahirlah aku. Lisa Kurniawati anak dari Ngadri dan mirah nama bapak dan ibu ku. Sedari aku kecil, bapak sering pergi bekerja dari pagi dan pulang di sore hari. Atau bahkan terkadang tidak pulang beberapa hari. Ibu bilang, tempat kerja bapak jauh. Aku sangat takut ketika hujan deras turun disertai petir. Aku menangis sejadi-jadinya sambil memanggil bapak. Ibu lalu datang memelukku dan mengatakan bahwa bapak sebentar lagi akan pulang. Begitu seterusnya ibu menenangkan ku.
Begitu pulang kerja, bapak selalu membawakan ku kue favoritku. Snack dengan bumbu kagung bakar kesukaanku. Tak lupa bapak mencium pipi ku dan menggendong ku. Di bawanya aku jalan-jalan, karna bapak tau dari ibu bahwa aku menangis tersedu-sedu mencarinya.
Ketika aku di Taman Kanak-Kanak (TK), aku paling suka diantar bapak menggunakan sepeda ontel pemberian mbah kakung ku. Dulu bapak tidak bisa mengendarai motor, jadi ia hanya bisa mengantarku dengan sepeda. Aku suka jika bapak mengajakku jalan-jalan dengan sepeda. "pak, lisa mau beli buah itu.." pintaku ingin dibelikan buah semangka. Tanpa pikir panjang, bapak langsung membelikan ku. Dengan kayuhan sepedanya yang pelan, bapak selalu mengajak ku bicara. Bapak bertanya, kenapa aku mencarinya kemarin. "bapak kerja nak, bapak kan mau belikan lisa sepeda" jelas bapak kepadaku. Tersenyum aku mendengarnya. Aku memang minta dibelikan sepeda roda tiga sama bapak, aku ingin naik sepeda sendiri tanpa digonceng bapak. Walaupun sebenarnya aku lebih suka digonceng bapak, tapi aku ingin merasakan juga bagaimana rasanya mengayuh sepeda seperti bapak.
Meski sekarang bapak memiliki empat anak, bapak tidak pernah membeda-bedakan kasih sayangnya. Jika diantara kami bertengkar, bapak tidak membela satu diantara kami. Seperti yang aku bilang, bapak selalu menasehati kami dan menceritakan kisah kecilnya yang tidak pernah sekalipun bertengkar dengan saudara-saudaranya.
Ketika salah satu diantara anaknya sakit pun, bapak dengan sigap membawa kami ke dokter atau klinik. Bapak selalu seperti itu.
Aku melihat bapak sebagai orang yang kuat. Orang yang selalu menginspirasi ku. Selalu bapak mengingatkan untuk bersyukur masih bisa diberi kesempatan untuk melihat kedua orang tua hingga sekarang. "jangan sia-siakan ketika orang tua masih diberi kesehatan oleh Allah, berbaktilah dan hormati dengan tulus. Jika orang tua sudah tidak ada, nantinya kamu akan menyesal, tidak bisa melakukan yang terbaik untuk orang tua." begitulah kiranya pesan yang selalu bapak sampaikan kepada aku dan adik-adik ku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar