Minggu, 20 Desember 2020

Gambaran Sosok Inspirasi ku

Aku dan adik ku hampir setiap hari tidak pernah absen bertengkar. Dalam hal apapun itu. Sekalipun tidak penting, bisa menjadi bahan untuk kami bertengkar. Pagi itu, kami bertengkar hanya karna remot tv. Seingatku, itu sekitar empat atau lima tahun yang lalu saat aku masih duduk dibangku SMP. Aku ingin menonton film kesukaanku, adik ku juga ingin menonton film favoritnya, diantara kami tidak ada yang ingin mengalah. Sampai akhirnya remot tv pecah karna terlempar. Mendengar kegaduhan, bapak datang dan memandangi kami satu persatu. Aku dan adik ku sangat takut, nampak dari wajah kami yang memucat. Bapak lalu duduk dan menyuruh kami meminta maaf dan membawa kami ke dapur untuk makan malam. Selesai makan, bapak mulai berbicara, "nak, sewaktu bapak kecil dulu, tidak pernah bapak dan saudara bapak bertengkar hanya karna hal sepele seperti itu." ketika bapak bicara, suasana saat itu hening sekali, tidak ada yang mengeluarkan kalimat atau kata sedikitpun. 

Hingga saat ini pun, saat aku sudah menjadi mahasiswa, aku selalu mengingat kisah yang bapak ceritakan sewaktu ia kecil dulu. Yap, bapak selalu menceritakan kisah masa kecilnya ketika aku atau adik-adik ku bertengkar satu sama lain. Kisah kecilnya, selalu menarik dan membuat haru. 

Pria kelahiran 2 Juli 1979 dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi,  dan badannya yang tidak terlalu besar,kulit kecoklatan,  juga rambut tebal yang masih hitam itu duduk di sebelahku. Sembari bercerita kisahnya dulu. Tepatnya ketika bapak masih duduk di bangku sekolah dasar, sebelum berangkat sekolah, diwaktu subuh bapak sudah bangun dan ikut orang tuanya untuk menoreh getah di hutan. Dengan hanya mengandalkan penerangan lampu lilin yang ditancapkan di batok kelapa. Ketika pulang sekolah, bapak langsung pergi bertani. "kenapa saat kecil bapak sudah bekerja sekeras itu?" timbul rasa penasaran di benak ku. Rupanya, membantu orang tuanya mencari uang adalah alasan utama bapak bekerja sedari kecil. Terlebih bapak adalah anak pertama dari lima bersaudara. Bapak bilang, dulu ketika ia makan dengan lauk satu buah telur dibagi dengan ke empat adiknya. Tidak pernah ia bertengkar ataupun mengeluh ketika diberi bagian yang lebih kecil. Ia bahkan kadang memberi lauknya untuk adik-adiknya.

Meski bapak lebih sering membantu orang tuanya, bapak tidak kehilangan masa kecilnya untuk bermain dengan teman-teman nya. Ketika pulang dari hutan, bapak langsung meloncat dari gertak ke sungai dengan teman-temannya. Mereka juga bermain lempar-lemparan lumpur. Bapak bilang ia sangat senang berenang, sampai-sampai ia terkadang demam karna terlalu lama bermain di air.

Setelah lulus SD, bapak memilih untuk tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMP. Bapak lebih memilih membantu orang tuanya dengan merantau ke kota bersama teman nya untuk mencari kerja. Pekerjaan yang didapatnya kala itu adalah meubel. Setiap bulannya, atau ketika bapak mendapat rezeki, ia selalu mengirim beras ke kampung untuk orang tua dan adiknya. Ketika itu, ibunya mengandung anak keenam yang sebentar lagi akan lahir. 

Pulang bapak ke kampung ketika mendengar ibunya meninggal setelah melahirkan adiknya. Bapak sangat sedih kala itu. Bapak yang berbulan-bulan tidak bertemu ibunya, kala itu bertemu dalam keadaan ibunya yang sudah meninggal. Beberapa hari disana, bapak kembali ke kota.

Tiga tahun setelah ibunya meninggal, terdengar kabar bahwa ayahnya juga berpulang menyusul ibunya. Ayahnya mempunyai riwayat penyakit paru-paru. Makin terpukullah bapak. Bapak memikirkan siapa yang akan merawat dan menjaga adiknya yang paling kecil. Alhamdulillah, ada tetangga bapak yang bersedia merawat adik-adiknya. 

Tak heran jika bapak merupakan sosok pekerja keras dan sayang kepada keluarga. Karna diusia bapak yang terbilang masih remaja, bapak sudah menjadi anak yatim piatu dengan lima orang adik yang masih kecil-kecil. 

Di tahun 2000, bapak menikah dengan gadis yang merupakan tetangganya dulu. Teman kecil dan teman mainnya dulu. Bisa dibilang diusia 21 tahun masih sangat muda untuk menikah, namun di jaman dulu, rata-rata masyarakatnya memang menikah diusia muda. Saat itu, gadis yang dinikahi bapak berusia 18 tahun. Masih sangat muda. 

Ketika dikaruniai anak pertama laki-laki, tidak sampai beberapa bulan anak tersebut dipanggil oleh Allah karena sakit. Ya! Dia adalah abangku. Kesabaran bapak kali ini diuji kembali oleh Allah. Bapak tak mengeluh ataupun menyalahi keadaan. Bapak tau, jika melakukan itu tidak akan bisa mengembalikan apa yang hilang.

20 September 2002, lahirlah aku. Lisa Kurniawati anak dari Ngadri dan mirah nama bapak dan ibu ku. Sedari aku kecil, bapak sering pergi bekerja dari pagi dan pulang di sore hari. Atau bahkan terkadang tidak pulang beberapa hari. Ibu bilang, tempat kerja bapak jauh. Aku sangat takut ketika hujan deras turun disertai petir. Aku menangis sejadi-jadinya sambil memanggil bapak. Ibu lalu datang memelukku dan mengatakan bahwa bapak sebentar lagi akan pulang. Begitu seterusnya ibu menenangkan ku.

Begitu pulang kerja, bapak selalu membawakan ku kue favoritku. Snack dengan bumbu kagung bakar kesukaanku. Tak lupa bapak mencium pipi ku dan menggendong ku. Di bawanya aku jalan-jalan, karna bapak tau dari ibu bahwa aku menangis tersedu-sedu mencarinya.

Ketika aku di Taman Kanak-Kanak (TK), aku paling suka diantar bapak menggunakan sepeda ontel pemberian mbah kakung ku. Dulu bapak tidak bisa mengendarai motor, jadi ia hanya bisa mengantarku dengan sepeda. Aku suka jika bapak mengajakku jalan-jalan dengan sepeda. "pak, lisa mau beli buah itu.." pintaku ingin dibelikan buah semangka. Tanpa pikir panjang, bapak langsung membelikan ku. Dengan kayuhan sepedanya yang pelan, bapak selalu mengajak ku bicara. Bapak bertanya, kenapa aku mencarinya kemarin. "bapak kerja nak, bapak kan mau belikan lisa sepeda" jelas bapak kepadaku. Tersenyum aku mendengarnya. Aku memang minta dibelikan sepeda roda tiga sama bapak, aku ingin naik sepeda sendiri tanpa digonceng bapak. Walaupun sebenarnya aku lebih suka digonceng bapak, tapi aku ingin merasakan juga bagaimana rasanya mengayuh sepeda seperti bapak.

Meski sekarang bapak memiliki empat anak, bapak tidak pernah membeda-bedakan kasih sayangnya. Jika diantara kami bertengkar, bapak tidak membela satu diantara kami. Seperti yang aku bilang, bapak selalu menasehati kami dan menceritakan kisah kecilnya yang tidak pernah sekalipun bertengkar dengan saudara-saudaranya. 

Ketika salah satu diantara anaknya sakit pun, bapak dengan sigap membawa kami ke dokter atau klinik. Bapak selalu seperti itu. 

Aku melihat bapak sebagai orang yang kuat. Orang yang selalu menginspirasi ku. Selalu bapak mengingatkan untuk bersyukur masih bisa diberi kesempatan untuk melihat kedua orang tua hingga sekarang. "jangan sia-siakan ketika orang tua masih diberi kesehatan oleh Allah, berbaktilah dan hormati dengan tulus. Jika orang tua sudah tidak ada, nantinya kamu akan menyesal, tidak bisa melakukan yang terbaik untuk orang tua." begitulah kiranya pesan yang selalu bapak sampaikan kepada aku dan adik-adik ku.

Minggu, 15 November 2020

Menganalisis Bahasa Berdasarkan PUEBI dan KBBI

Seringkali kita temukan di spanduk, baliho, pamflet dan lain-lain dengan tulisan yang tidak baku. Masyarakat ataupun pelajar kurang memperhatikan dan mempelajari sepenuhnya mengenai tulisan yang sesuai dengan kaidah kebahasaan dan ejaan Bahasa Indonesia yang benar. Berikut analisis dari spanduk, baliho, pamflet dan lain-lain yang banyak terdapat tulisan tidak baku.


Lokasi Gambar : Jalan Sungai Raya Dalam
Waktu Pengambilan Gambar : Minggu, 15 November 2020

Analisis : 
Pada gambar di atas, terdapat kata "praktek" yang merupakan kata tidak baku. Penulisan yang benar dari kata "praktek" adalah "praktik". 
Pada kata "jam" di atas juga tidak baku. Karena kata "jam" merupakan kata yang di gunakan untuk menunjukkan jangka waktu. Jadi kata yang seharusnya di gunakan adalah kata "pukul" karena merupakan kata yang di gunakan untuk menunjukkan waktu.


Lokasi Gambar : Jalan Sungai Raya Dalam
Waktu Pengambilan Gambar : Minggu, 15 Novemer 2020

Analisis :
Pada gambar, kata "apotik" merupakan kata tidak baku. Menurut KBBI dan sesuai dengan EYD (Ejaan Yang Di Sempurnakan) maka penulisan kata yang benar adalah "apotek".


Lokasi Gambar : Jalan Sungai Raya Dalam
Waktu Pengambilan Gambar : Minggu, 15 November 2020

Analisis : pada gambar terdapat kata "foto copy" yang merupakan gabungan dari Bahasa Indonesia dan Bahasa Asing. Menurut KBBI penulisan kata yang baku adalah "fotokopi".


Lokasi Gambar : Jalan Sungai Raya Dalam
Waktu Pengambilan Gambar : Minggu, 15 November 2020

Analisis : 
Kata "cash" pada gambar merupakan kata asing. Sebaiknya penulisan menggunakan bahasa Indonesia menjadi kata "tunai". Kalaupun menggunakan bahasa asing, seharusnya tulisan di miringkan.
Garis miring pada gambar yang mengapit masing-masing kata juga di beri spasi. Seharusnya, baik kata yang mendahului tanda garis miring maupun sebelum garis miring tidak menggunakan spasi.


Lokasi Gambar : Jalan Sungai Raya Dalam
Waktu Pengambilan Gambar : Minggu, 15 November 2020

Analisis : 
Kata depan "di" pada gambar, seharusnya digabung dengan kata "sewa" dengan tambahan akhiran "kan" di belakang kata "sewa". Karena kata "sewa" merupakan kata kerja dan jika digabungkan menjadi "disewakan". Jika digabungkan dengan kata depan "di" maka kata "sewa" menjadi kata kerja pasif.

Sebenarnya masih banyak lagi, tetapi ini hanya sebagian yang mewakilinya. Ini sudah cukup membuktikan bahwa masyarakat ataupun pelajar belum menerapkan sepenuhnya penggunaan kaidah atau ejaan Bahasa Indonesia dengan baik. Diharapkan kedepannya, masyarakat ataupun pelajar lebih memerhatikan penggunaan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai dengan EYD (Ejaan Yang Di Sempurnakan). 













Sabtu, 07 November 2020

100 Kosa Kata Bahasa Jawa


 Kosakata Bahasa Jawa Kampung Parit Jawa Baru Desa Sungai Asam Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

1.) Apa.               : Opo
2.) Bagaimana : Piye
3.) Siapa           : Sopo
4.) Dimana       : Neng endi
5.) Disini           : Neng kene
6.) Disitu           : Neng Kono
7.) Seperti         : Koyo'
8.) Ini                  : Iki
9.) Itu                  : Iku
10.) Iya                : Iyo
11.) Tidak            : Ora
12.) Jangan        : Ojo
13.) Boleh            : Oleh
14.) Bisa               : Iso
15.) Makan           : Mangan
16.) Minum          : Ngombe
17.) Tidur              : Turu
18.) Bangun          : Tangi
19.) Lelah              : Kesel
28.) Datang           : Teko
21.) Pergi                : Lungo
22.) Wajah             : Rai
23.) Kepala            : Ndas
24.) Mata               : Moto
25 ) Hidung.          : Irong
26.) Gigi                  : Untu
27.) Mulut              : Cangkem
28.) Kaki                : Sikel
29.) Ikan                : Iwak
30.) Ayam              : Pitek
31.) Burung            : Manok
32.) Kambing        : Wedos
33.) Ular                  : Ulo
34.) Sakit                : Loro
35.) Sehat                : Waras
36.) Mau                  : Arep
37.) Semua              : Kabeh
38.) Cantik              : Ayu
39.) Jelek                 : Elek
40.) Bagus               : Apik
41.) Bersih               : Resik
42.) Makanan         : Panganan
43.) Air                     : Banyu
44.) Api                    : Geni
45.) Manis               : Legi
46.) Asam                : Kecut
47.) Banyak             : Akeh
48.) Sedikit              : Sitik
49.) Melihat             : Ndelo'
50.) Mendengar       : Kerungu
51.) Mencari              : Gole'
52.) Memegang        : Cekel
53.) Menggigit          : Cokot
54.) Berlari                 : Mblayu 
55.) Diam                    : Meneng
56.) Tertawa               : Ngguyu
57.) Membuat            : Nggawe
58.) Mencuci Piring : Isah-Isah
59.) Mencuci Baju    : Umbah-Umbah
60.) Memasak Nasi  : Ngeliwet
61.) Merebus               : Nggodok
62.) Nasi                      : Sego
63.) Cabe                     : Lombok 
64.) Merah                  : Abang
65.) Hitam                   : Ireng
66.) Hijau                     : Ijo
67.) Naik                      : Munggah
68.) Turun                    : Medon
69.) Gelap                     : Peteng
70.) Terang                   : Padang
71.) Malam                    : Wengi
72.) Perempuan           : Wedok
73.) Laki-laki                : Lanang
74.) Kecil                       : Cilik
75.) Besar                      : Gede
76.) Berani                    : Wani
77.) Takut                      : Wedi 
78.) Besok                     : Sesok
79.) Sekarang               : Saiki
80.) Nanti                      : Engko
81.) Rumah                    : Omah
82.) Selimut                   : Kemol
83.) Sudah                      : wes
84.) Belum                     : Urung
85.) Jatuh                       : Tibo
86.) Baju                          : Kelambi
87.) Telur                         : Endok
88.) Atas                          : Nduwor
89.) Bawah                     : Ngisor
90.) Baju                          : Kelambi
91.) Kamu                        : Koe
92.) Hidup                       : Urep
93.) Orang                       : Uwong
94.) Lama                        : Suwe
95.) Sebentar                  : Sedilik
96.) Sendirian                : Dewean
97.) Jalan                        : Mlaku
98.) Suka                         : Seneng
99.) Sama                        : Podo
100.) Panjang                 : Dowu

Dilansir dari Wikipedia, Indonesia memiliki 718 bahasa daerah. Salah satunya adalah bahasa Jawa. Di kampungku sendiri, sebagian besar penduduknya menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi sehari-hari. Bahasa Jawa yang di gunakan agak berbeda dengan yang di gunakan masyarakat di Pulau Jawa, karena memang bahasa Jawa sendiri banyak macam nya. Karena tidak berada di Pulau Jawa, jika di tanya mengenai suku, masyarakat sekitar menyebutnya dengan "Japon (Jawa Pontianak)". Cukup unik memang, namun itulah keberagaman Indonesia dengan masyarakatnya yang majemuk.


Senin, 02 November 2020

Tempat Dengan Segala Memori Indah

 Bismillah...

Bukan kampung halaman ku tepatnya. Tidak juga lahir dan di besarkan di sana. Namun sebagian memori indahku ada disana, bagaimana aku yang selalu merindukan tempat itu dan selalu ingin kembali kesana. Desa ini terletak masih di tepi aliran sungai kapuas. 

Tempat ini merupakan kampung halaman orang tuaku, mereka lahir dan besar disana. Bersekolah pun juga disana. Bahkan pertemuan mereka hingga akhirnya menikah juga disana. Di sana ada nenek, kakek, juga sebagian kecil keluarga ku. Sedangkan ibu, ayah, dan keluarga ku yang lain sudah merantau dan tidak lagi tinggal disana.

Sejak kecil apalagi saat hari libur, aku selalu di bawa untuk bertemu nenek, kakek, bude, pakde, dan sepupu-sepupu ku disana. Apalagi setiap hari libur keluarga ku yang tinggal di kota juga turut berlibur kerumah nenek. Ramai sekali rumah nenek jika hari libur, semua keluarga berkumpul disana.

Yang paling aku nantikan jika berlibur kerumah nenek adalah berenang di sungai. Seru sekali berenang dan bermain bersama sepupu-sepupu ku yang lainnya. Sampai-sampai kami sering di marah karna terlalu lama bermain di air. Banyak hal yang aku rindukan sejak kecil disana.

Memakan waktu kurang lebih 2 jam dalam perjalanan jalur darat untuk sampai disana. Dulu jalannya tidak sebagus sekarang, masih berlumpur dan becek. Tapi sekarang jalannya sudah ber aspal sehingga sangat mudah di lalui. Perlu menyebrang sungai juga jika ingin sampai disana. Menyebrang dengan kapal kecil yang juga biasa di sebut klotok. Sebenarnya akses untuk sampai disana tidak begitu sulit, terlebih sekarang juga ada jembatan penghubung di tepi sungai sehingga tidak perlu repot memutar dari arah belakang untuk sampai disana. Ini adalah jalan ketika sudah sampai di rumah nenek.

Karena berbatasan langsung dengan sungai, menikmati indahnya matahari terbit dan tenggelam juga biasa aku dan sepupu-sepupu ku yang lain lakukan. Banyak gambar yang kami abadikan ketika melihat indahnya momen tersebut. Salah satunya ini. Langit nan oranye menjadikan panorama begitu indah.

Banyak sekali memori indah dan menyenangkan yang selalu ku ingat ketika aku kecil disana. Namun sekarang, cukup banyak yang berubah disana. Kakek yang dulu masih bersama kami, sudah lebih dulu beristirahat dengan tenang sejak 6 tahun yang lalu. Sedih rasanya mengenang saat itu. Desa yang dulunya penduduknya ramai juga kian sedikit karena banyak yang mencari penghasilan di kota yang lebih tepatnya sudah merantau. Begitu juga sepupu-sepupu ku yang tinggal disana, namun dengan bertambahnya usia dan pendidikan, mereka harus berkuliah dan bekerja di kota. Namun mereka juga selalu pulang ke desa sesekali untuk bertemu keluarga disana, begitu juga dengan orang tuaku.






Gambaran Sosok Inspirasi ku

Aku dan adik ku hampir setiap hari tidak pernah absen bertengkar. Dalam hal apapun itu. Sekalipun tidak penting, bisa menjadi bahan untuk ka...